Home Covid-19, News Inilah Alasan Kenapa Waktu Pemberian Dosis Tiap Vaksin COVID Berbeda
Covid-19News

Inilah Alasan Kenapa Waktu Pemberian Dosis Tiap Vaksin COVID Berbeda

Inilah Alasan Kenapa Waktu Pemberian Dosis Tiap Vaksin COVID Berbeda

Pemerintah konsisten mendorong perlindungan vaksin COVID-19 bagi masyarakat. Hal itu di jalankan untuk capai herd immunity atau kekebalan kelompok.

Jeda saat perlindungan vaksin dosis pertama dan kedua pun rupanya punyai perbedaan. Ada yang hanya dua pekan, tersedia yang capai 2-3 bulan lamanya.

Di lansir dari laman stpauljaycees.org, Juru Bicara Vaksin COVID-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarimizi, mengatakan jeda saat berikut terkait brand vaksin yang di berikan.

“Minimal untuk Sinovac adalah 28 hari, kalau terlewat maksimum dua minggu. Kalau AstraZeneca bisa antara 2-3 bulan. Jadi tergantung vaksinnya,” ujar Nadia kepada IDN Times, Selasa (20/7/2021).

Di kutip dari laman apk idn poker, terkait efektivitasnya, misalkan vaksin Sinovac di berikan rentang lebih dari 28 hari, Nadia menyatakan tetap efektif.

“Kalau sampai dua minggu (dari 28 hari) efektivitasnya masih baik sesuai dengan hasil uji klinis,” ucapnya.

1. Vaksin Sinovac

Sinovac merupakan tidak benar satu vaksin COVID-19 pertama yang masuk ke Indonesia. Di buat Sinovac Biotech Ltd di Tiongkok, vaksin yang satu ini di bikin dengan langkah melemahkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Bagian berasal dari kode genetiknya itu yang terkandung di dalam vaksin.

Proses pembuatan Sinovac serupa sekali tidak gunakan rekayasa genetik maupun sintesis. Melalui langkah ini, tubuh bakal di rangsang untuk mengetahui virus untuk membentuk proses imun terhadapnya.

Berikut ini detail informasi mengenai Sinovac:

Rekomendasi: untuk usia 18 tahun ke atas.
Dosis: dua kali injeksi (0,5 mililiter) dengan jarak 14 hari.
Efikasi: 65,3 persen menurut uji klinis di Indonesia.
Efek samping: nyeri, bengkak, dan kemerahan di area bekas suntikan, demam, lelah, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan muntah. Namun sebagian penerima vaksin di laporkan tidak mengalami efek samping apa pun.
Efek terhadap mutasi virus: sejauh ini, Sinovac di ketahui masih bisa di gunakan untuk melawan strain B1617 dari India. Uji lebih lanjut di perlukan untuk mengetahui seperti apa efeknya terhadap mutasi lain.

2. Vaksin AstraZeneca

Vaksin COVID-19 berikutnya adalah AstraZeneca yang di bikin bekerja serupa dengan Universitas Oxford. Lain dengan Sinovac, vaksin ini menggunakan partikel virus lain. Alih-alih kenakan material genetik SARS-CoV-2, AstraZeneca memiliki kandungan partikel adenovirus. Ini merupakan virus yang biasa membuat flu pada simpanse.

Langkah ini di pilih di karenakan adenovirus mampu menghasilkan spike protein yang serupa dengan SARS-CoV-2. Di lansir New York Times, virus tersebut di pilih di karenakan spike proteinnya mampu masuk ke sel tanpa replikasi. Dengan begitu, risiko infeksi pascavaksinasi pun mampu berkurang.

Berikut ini detail informasi mengenai AstraZeneca:

Rekomendasi: untuk usia 18 tahun ke atas.
Dosis: dua kali injeksi (0,5 mililiter) dengan jarak 8-12 minggu.
Efikasi: 63,09 persen menurut WHO.
Efek samping: nyeri, bengkak, dan kemerahan di area bekas suntikan, demam, tubuh menggigil, lelah, mual, dan muntah.
Efek terhadap mutasi virus: menurut laporan Yale Medicine, sejauh ini, AstraZeneca lebih ampuh untuk melawan varian Alpha daripada Beta. Uji lebih lanjut masih di butuhkan untuk strain virus lainnya.

3. Vaksin Sinopharm

Di kembangkan oleh China National Pharmaceutical Group, vaksin COVID-19 buatan Sinopharm terhitung tengah di pakai di Indonesia. Sama seperti Sinovac, vaksin ini manfaatkan teknologi konvensional, yakni bersama langkah memasukkan partikel SARS-CoV-2 yang telah di lemahkan.

Dengan langkah tersebut, di kehendaki tubuh bakal membentuk sistem kekebalan terhadap SARS-CoV-2. Jadi, di kala nanti ada virus asli yang masuk, kita punyai “senjata” untuk melawannya. Berikut ini informasi teliti tentang Sinopharm:

Rekomendasi: untuk usia 18 tahun ke atas.
Dosis: dua kali injeksi (0,5 mililiter) dengan tenggat waktu 3-4 minggu.
Efikasi: menurut laporan WHO, efikasi Sinopharm dalam uji klinis terhadap infeksi yang bergejala mencapai 79 persen.
Efek samping: sejauh ini, Sinopharm jarang menyebabkan efek samping terhadap penerimanya. Jika ada pun yang muncul adalah keluhan ringan seperti sakit kepala, nyeri otot, diare, dan batuk.
Efek terhadap mutasi virus: sejauh ini, Sinopharm di ketahui masih memiliki efek antivirus terhadap mutasi yang berasal dari Afrika Selatan dan Inggris. Seperti lainnya, uji lebih lanjut masih terus di butuhkan.

Author

Paul Jaycess